Ribuan Anak di Bali Putus Sekolah Akibat Ekonomi Hingga Pernikahan Dini
Hak konstitusional anak atas pendidikan di Bali menghadapi ujian serius menyusul tingginya angka anak yang tidak melanjutkan sekolah. Berdasarkan data KPAD Provinsi Bali, total anak yang tidak mengenyam pendidikan di wilayah tersebut tercatat mencapai angka sekitar 28 ribu anak.
Komisioner KPAD Bali, Lilik Ismurtomo Santoso, menjelaskan bahwa masalah ini sangat kompleks dan dipicu oleh berbagai faktor sosial di masyarakat. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi ekonomi keluarga yang mendesak anak untuk mencari penghasilan sendiri.
"Sebagian anak memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga karena dapat memperoleh penghasilan secara langsung," ujarnya mengenai fenomena tersebut.
Selain masalah finansial, anggota Komisi IV DPRD Bali, Putu Diah Pradnya Maharani, menyoroti tantangan geografis seperti jarak tempuh yang jauh ke sekolah. Hambatan ini dirasa memberatkan anak di bawah umur yang belum mandiri dalam berkendara.
Tekanan psikologis, perundungan di lingkungan sosial, serta pernikahan dini turut memperparah potensi anak meninggalkan bangku sekolah. Pemerintah bersama lembaga terkait kini terus menggalakkan program bantuan dan beasiswa guna menekan angka putus sekolah.
Artikel Lainnya
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengantisipasi lonjakan penonton MotoGP Mandalika 2026 dengan mendorong maskapai...
Republik Arab Mesir merupakan negara transbenua yang membentang dari timur laut Afrika hingga Semenanjung Sinai di Asia ...
Presiden Prabowo Subianto mendapatkan sambutan meriah dari para pejabat KBRI New Delhi, diaspora, serta mahasiswa Indone...
Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali menyatakan bahwa persoalan anak tidak sekolah di Bali dipicu oleh k...
Ketergantungan ekonomi kerap menjadi pemicu utama perempuan terjebak dalam ketimpangan relasi kuasa di ranah domestik. K...