Minggu, 13 September 2026

Ribuan Anak di Bali Putus Sekolah Akibat Ekonomi Hingga Pernikahan Dini

Pemenuhan hak pendidikan anak di Provinsi Bali masih dihadapkan pada tantangan berat dengan jumlah anak putus sekolah yang mencapai sekitar 28 ribu jiwa. Faktor pemicunya beragam, mulai dari himpitan ekonomi, memilih bekerja, hambatan jarak, hingga fenomena pernikahan dini.

Hak konstitusional anak atas pendidikan di Bali menghadapi ujian serius menyusul tingginya angka anak yang tidak melanjutkan sekolah. Berdasarkan data KPAD Provinsi Bali, total anak yang tidak mengenyam pendidikan di wilayah tersebut tercatat mencapai angka sekitar 28 ribu anak.

Komisioner KPAD Bali, Lilik Ismurtomo Santoso, menjelaskan bahwa masalah ini sangat kompleks dan dipicu oleh berbagai faktor sosial di masyarakat. Salah satu pemicu utamanya adalah kondisi ekonomi keluarga yang mendesak anak untuk mencari penghasilan sendiri.

"Sebagian anak memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga karena dapat memperoleh penghasilan secara langsung," ujarnya mengenai fenomena tersebut.

Selain masalah finansial, anggota Komisi IV DPRD Bali, Putu Diah Pradnya Maharani, menyoroti tantangan geografis seperti jarak tempuh yang jauh ke sekolah. Hambatan ini dirasa memberatkan anak di bawah umur yang belum mandiri dalam berkendara.

Tekanan psikologis, perundungan di lingkungan sosial, serta pernikahan dini turut memperparah potensi anak meninggalkan bangku sekolah. Pemerintah bersama lembaga terkait kini terus menggalakkan program bantuan dan beasiswa guna menekan angka putus sekolah.

Redaksi Rafael Ribeiro
Redaksi Rafael Ribeiro
Tim redaksi Rafael Ribeiro News yang menyajikan berita terkini dan terpercaya dari berbagai bidang.
Redaksi Rafael Ribeiro adalah tim jurnalis profesional yang berdedikasi untuk menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya dari berbagai bidang. Tim redaksi bekerja dengan kode etik jurnalistik yang ketat dan selalu mengutamakan kepentingan publik dalam setiap pemberitaan.