Sabtu, 5 September 2026

Mengenal Bakso Eso, Kuliner Legendaris Baturiti Bali Sejak 1965

Usaha kuliner Bakso Eso di Banjar Pacung, Desa Baturiti, Tabanan, Bali, berhasil bertahan selama lebih dari enam dekade sejak pertama kali didirikan pada tahun 1965. Kini dikelola oleh generasi kedua, kedai ini tetap mempertahankan ciri khas penggunaan usus sapi dan tetelan yang tak pernah berubah.

Dunia kuliner di Kabupaten Tabanan, Bali, menyimpan jejak sejarah panjang lewat kehadiran Bakso Eso yang berlokasi di Banjar Pacung, Desa Baturiti. Rintisan usaha yang digagas oleh almarhum I Wayan Sukarya sejak 1965 tersebut masih terus menyajikan cita rasa khasnya hingga saat ini.

Perjalanan kuliner legendaris ini berawal dari kegigihan almarhum Sukarya yang menjajakan bakso menggunakan gerobak dorong di sekitar Pasar Baturiti. Kini, roda bisnis keluarga tersebut diteruskan oleh putri sulungnya, Ni Luh Suryantini (49), bersama jajaran keluarganya.

"Bapak berasal dari Marga Tabanan. Saat remaja, beliau merantau ke Baturiti, menikah di sini dan menetap hingga mengembangkan usaha Bakso Eso ini," tutur Suryantini saat membagikan cerita sejarah usaha sang ayah, Minggu (1/8/2026).

Keunikan utama yang membuat hidangan ini legendaris terletak pada penggunaan "eso" atau usus sapi serta tetelan segar yang disiram kuah kaldu kaya rempah. Sebagai variasi modern, pengelola juga menyajikan opsi bakso ayam dan sajian pelengkap berupa bubur.

Aktivitas penjualan Bakso Eso dimulai setiap pagi di area Pasar Baturiti hingga pukul 11.00 Wita, sebelum berpindah ke warung permanen di selatan pasar hingga sore hari. Untuk menjaga kualitas cita rasa warisan, pengelola mendatangkan pasokan lima kilogram daging sapi dan ayam saban hari dari Buleleng serta Denpasar.

Redaksi Rafael Ribeiro
Redaksi Rafael Ribeiro
Tim redaksi Rafael Ribeiro News yang menyajikan berita terkini dan terpercaya dari berbagai bidang.
Redaksi Rafael Ribeiro adalah tim jurnalis profesional yang berdedikasi untuk menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya dari berbagai bidang. Tim redaksi bekerja dengan kode etik jurnalistik yang ketat dan selalu mengutamakan kepentingan publik dalam setiap pemberitaan.